PENGEJAR MIMPI
Namaku Dul sebenarnya namaku Abdul
khafidz tapi orang-orang di desaku terbiasa memenggilku dengan sebutan DUL,
pantas saja si karna aku orang desa, aku terlahir ditempat yangtak layak tuk ditempati
dan dengan hidup yang serba kekurangan. Saat ini ku beranikan diriku untuk masuk kepenjara suci, Meski aku
ragu orangtuaku sanggup menanggung biayanya atau tidak. Sebenarnya yang ku
inginkan untuk pendidikanku adalah sekolah umum tapi sekolah disini menyediakan
pondok sehingga orang tuaku mengharuskanku untuk mondok disini. Hari ini adalah
hari pertamaku sekolah, ku langkahkkan kakiku dari rumah hingga sampai depan
gerbang yayasan. Disitu terpampang nama yayasan “Alma’had mu’assasah sabilul
huda” entahlah hati ini terasa tentram ketika aku tak sengaja membacanya. Di
depan sekolah telah ramai dipadati olah para orangtua yang ikut mengantar
anaknya, disini aku sendiri karna oarngtuaku mengira aku sudah berani, sejak
kecil orangtuaku memang jarang sekali meluangkan waktunya untuk berkumpul
bersamaku, mereka hanya sibuk bekerja tapi hasilnya tetap nihil, yaCh kita
sebagai manusia memang dituntut untuk ikhlas menghadapi realita kehidupan.
Pertama kaliku masuk pondok
pesantren rasanya begitu sangatlah asing, suasana pondok yang sebenarnya baru
ku rasakan setelah aku berada dipondok
selama hampir satu setengah tahun, tepatnya kelas 2 SMP. Terlalu lama aku
mondok disini tapi tetap saja tiada hasil, sering sekali aku melakukan hal-hal
yang justru menyimpang peraturan santri, sehingga aku sering sekali di”ta’zir”
kali ini aku masih punya tanggungan menyelesaikan hukuman,
Saat ini ku sedang dekat dengan
cewek dan ku melakukan hubungan ini secara diam-diam karna aku takut dengan “ta’ziran”,
waktu terus berjalan hingga akhirnya aku sadar aku telah melupakan tujuan
awalku dari rumah, aku juga sering tidak mengikuti kegiatan sampai-sampai aku
dijauhi oleh teman-temanku, sayangnya kesadaranku baru datang setelah
teman-teman menjauh. Cewek yang ku dekati
juga pindah ke sekolah lain dengan alasan tidak betah, Akhirnya rahasia yang ku
simpan terbongkar kini aku harus menjalani “ta’ziran”, mekhatamkan al
Qur’an di maqomnya Mbah dengan alasan
pacaran dan dan denda 2000 per kegiatan pondok yang tidak ku ikuti, jujur aku
tak mampu mengerjakan semua “ta’ziran” ini, akhirnya timbullah ide untuk
kabur dari pondok.Tekatku sudah bulat untuk meninggalkan pondok untuk
menenangkkan fikiran karna terlalu
banyak ta’ziran yang tidak sesuai kemampuanku yang harus aku selesaikan, bahkan
aku juga pernah disuruh berdiri diatas kursi yang ditaruh pinggiran jalan
selama dua jam, aku malu dengan orang-orang yang lewat dijalanan tersebut. Tapi
aku bingung harus kemana lagi ku langkahkan kakiku, tiba-tiba terlintas
difikirku untuk pergi ke markas teman-temanku tempat dimana mereka sering
berkumpul setelah aku sampai disana ternyata tidak ada satu orang pun, aku terus
berjalan mengikuti langkah kakiku, dan ternyata usahaku tidak sia-sia, aku
berhasil menemui mereka yang sedang “nongkrong” ditempat yang tidak asing
bagiku .
Setelah sampai disana akupun
menceritakan pada mereka dengan apa yang telah ku alami, se belum mondok kami
sering berempat aku, maman, toni dan mahmud, dan sekarang aku telah terpengaruh
oleh kebiasaan mereka, aku merasa tak bisa tagi mengendalikan kenakalanku. Sebenarnya
setiap melakukan halseperti ini fikiranku langsung tertuju pada orang tuaku,
karna karna setahuku mereka telah berjuang mati-matian demi membiaya sekolahku
dan pastinya dengan harapan agar masa depanku baik tapi ternyata yang aku
lakukan hanyalah bersenang-senang dengan teman-temanku.
Suatu hari aku diajak pergi oleh
mereka, tempat itu sangatasing bagiku, setelah ku perhatikan ternyata ini
adalah tampat dimana orang-orang berjudi, aku disuguhi air putih, aku tidak mau
aku bersaha menolaknya, tetapi mereka tetap saja mereka terus memaksaku.
“Memangnya apa istimewanya
minuman ini sampai mereka segitunya menyurhku”ucapku dalam hati. Karena
penasaran, akupun mencobanya. Setelah terfikir-fikir aku tak pernah meminum
bahkan menyentuh minuman seperti ini. Aneh, itu yang ada benak fikiranku.
Terlihat seperti air putih biasa tapi sangat asing bangiku dan setelah
kutelusuri ternyata aku baru mengetahui bahwa yang telah ku minun tadi adalah
minuman keras.
Hari demi hari
kulewati denga kebiasaan burukku yang kini akku telah terbiasa dengan kebiasaan
itu, seperti halnya merokok, minum, bahkan tak jarang sekali aku mencoba
obat-obatan terlarang. Suatu hari, kami berjanjian untuk pergi ke suatu tempat
setelah pulang sekolah, kami mengunjungi sebuah tempat yang tak sepantasnya
bagi kaum muslim. “Diskotik” segala jenis maksiat ada disini, tetapi untukmasuk
ke tempat itu perlu uang yang jumlahnya tak sedikit. Aku bingungbagaimana
caranya untukmendapatkan uang itu, tiba-tiba terlintas dibenakku untuk
mengambil uang ibuku yang ada dilemari tepatnya dibawah tumpukan baju-baju.
Setelah sampai
disana kami langsung di suguhi minuman dan sebuah serbuk putih yang terbungkus
plastikdengan ukuran sangat kecil, tak lain dan tak bukan namanya adalah
sabu-sabu, tiba-tiba sekelompok polisi berdatangan. Hal itu membuatku
tercengang. Dengan cepat semua penghuni berhamburan lari kesana-kemari untuk
menyelamatkan diri mereka sendiri, termasuk temanku Toni. Namun usahanya gagal,
saat ia lari kakinya langsung ditembak oleh salah satu polisi tersebut,
alhasilTonipun terjatuh. Kelihatannya Toni tampak kesakitan dan ia terus saja
menekan kakinya pada bagian yang tertembak. Darahnya terus saja keluar
sampai-sampai ia kehilangan banyak darah. Melihat keadaan Toni yang seperti
itu, polisi tak hanya tinggal diam, polisipun memberinya pertolongan pertama.
Namun semua itu tak ada hasilnya, Toni akhirnya meninggal dunia. Dan kamipun
kembali diseret ke dalam tahanan jeruji besi. Setelah kejadian itu kamipun
sering mengalami konflik. Bertengkar, itulah yang sering ku alami sudah sekian
lama aku disini, namun aku hanya bisa berdiam diri. Tiada hal yang
mampukulakukan disini. Tiba-tiba bayangan pesantren telintas di fikiranku, dulu
aku sering menjalankan ibadah solat, tetapi kini aku memutuskan hal itu.
Aku panggil-panggil penjaganya, namun tak ada
jawaban sama sekali, aku berusaha memukul-memukul gembok yang bergantungan
dengan jeruji-jeruji besi, kemudian sang penjagapun datang,dan aku sampaikan
apa maksutku kalau aku ingin ambil wudhu,setelah itu sang penjaga membawaku ke
kamar mandi. Semua telah siap, akupun mulai menjalankan sholat. setelah
berulang kali temanku melihat ku sholat, merekapun tergerak untuk ikut sholat.
Saat kami sholat berjama’ah tiba-tiba saja Mahmud terjatuh, tanpa fikir panjang
kamipun langsung membatalkan sholat dan segera menolong Mahmud. Tubuhnya tanpak
lemah, seperti tidak punya daya sama sekali, melihat itu kemudian ia pun dibawa kerumah sakit.
Sesampainya Mahmud langsung dibawa dalam suatu ruangan, aku tak menemaninya, aku
hanya bisa mengetahui keadaannya lewat penjelasan dari dokter. Kata dokter,
Mahmud seperti itu karena ia sering menghisap rokok. Sehingga tar
yang terkandung didalam rokok itu menghasilkan kanker, dan kini kanker itu
sudah menyebar hampir seluruh tubuh Mahmud, lihatlah sedari tadi Mahmud terus
saja merasa kesakitan. Saat aku dan maman terdiam diri dalam sel tidaksengaja
aku mendengar pembicaraan petugas sel, jika salah satu tahanan ini akhirnya
meninggal, sontak aku meneteskan air mata ketika mendengarnya.
***
Dua tahun kemudian kami di bebaskan,
tinggal aku dan maman, pihak kepolisian tak menanggung kepulangan kami jadi
kami jalan kaki, tengah perjalanan kami berpisah karna kami berbeda jalur. Tak perlu lama aku berjalan akhirnya
aku sampai rumah, namun kepulanganku telah di sambut dengan adanya bendera
hijau dan banyaknya orang orang yang mengaji disekitar rumahku, Aku harap semua
baik baik saja tidak terjadi apa apa dengan keluargaku. Aku mencoba beranikan
diriku untuk masuk kerumah dan dan kini
kudapati seorang wanita yang selama ini menyayangiku telah terbaring dengan
penutup kain putih, kiniaku sadaribahwa aku sudah tak punya siapa-siapa lagi.
Belum sempat kumembalas perjuangan keras ayahku aku juga belum sempat memeluk
ibuku, namun apa yang terjadi? Aku telah kehilangan semuanya, itujuga akibat
kalalaianku oleh dunia yang fana ini.
Satu minggu
kemudian, aku mencoba untuk memberanikan diriku untuk kembali ke pesantren, dan aku harus
sungguh-sungguh mengingat cita citaku yang mulia walau aku tau semua itu tak
mudah dan perlu perjuangan.
